BAB 1: BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN DAN ETOS KERJA

 


APERSEPSI

Allah Swt. menciptakan manusia yang berbeda. Meski berbeda, manusia tetap memiliki kesempatan yang sama dalam melakukan kebaikan. Allah Swt. hendak mencari dan menguji siapa saja yang paling kuat keimanan kepada-Nya sehingga manusia harus saling berkompetisi dalam kebaikan. Untuk memenangkan perlombaan, tentu dibutuhkan sebuah etos kerja tinggi dan kesungguhan.

 

Sikap berlomba dalam kebaikan dan etos kerja merupakan dua pilar yang paling dibutuhkan untuk membentuk karakter dan arah kemajuan sebagai-individu dan bangsa. Materi berikut akan dijelaskan tentang ayat berlomba dalam kebaikan dan etos kerja, yaitu Surah al-Ma'idah ayat 48 dan Surah at-Taubah ayat 105.

 

RINGKASAN MATERI

Berlomba dalam kebaikan dan etos kerja termasuk akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam. berlomba maba dalam kebaikan dan kerja sangat dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Allah Swt. memerintahkan untuk berlombą dalam kebaikan dan memiliki etos kerja, di antaranya dijelaskan dalam Surah al-Ma'idah ayat 48 dan Surah at-Taubah ayat 105 sebagai berikut.

 

A. Kompetisi dalam Kebaikan

1. Pengertian Kompetisi dalam Kebaikan

Lomba juga disebut kompetisi. Kompetisi memiliki arti persaingan. Adapun kebaikan adalah segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan norma atau hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Kebaikan dalam Islam diartikan sebagai segala bentuk amal saleh yang diajarkan dalam Islam dan apabila dikerjakan dapat mendatangkan keridaan dari Allah Swt.. Jadi, kompetisi dalam kebaikan adalah berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam melakukan kebaikan atau amal saleh. Berlomba dalam kebaikan berarti berkompetisi untuk memberikan yang terbaik dalam setiap tindakan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kesejahteraan bersama. Ini adalah tentang menciptakan dampak positif dan menjadi teladan dalam moralitas dan integritas.

Islam mengajarkan umatnya untuk beriomba dalam kebaikan sebagai titik fokus kehidupan mereka, yaitu melakukan amal baik yang menjadi bekal di akhirat. Setelah kematian, hanya amal baik yang dapat menyelamatkan seseorang. Orang yang memiliki semangat kompetisi dalam kebaikan akan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai tujuannya. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam berlomba-lomba dalam kebaikan, cara yang digunakan harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang benar. Al-Qur'an dan hadis memberikan petunjuk yang jelas dalam melaksanakan amal kebaikan.

 

2. Ayat Al-Qur'an Terkait Kompetisi dalam Kebaikan

a. Lafaz dan Terjemahan Surah al-Ma'idah Ayat 48

لِكُلِّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا أَتْكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Artinya:

"...Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang selama ini kamu perselisihkan." (Q.S. al-Ma'idah [5]: 48)

d. Kandungan Surah al-Ma'idah Ayat 48

Perintah berlomba dalam kebaikan terdapat dalam Surah al-Ma'idah ayat 48. Allah Swt. menghendaki manusia menggunakan akal pikirannya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal saleh. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud berlomba-lomba dalam kebaikan adalah menaati Allah Swt., mengikuti syariat-Nya, dan membenarkan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab terakhir yang diturunkan-Nya. Allah Swt. mengutus para nabi dan menurunkan syariat kepadanya untuk memberi petunjuk kepada manusia agar hidup pada jalan yang benar dan lurus. Ayat ini juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Umat-umat terdahulu memiliki syariat dan hukum sendiri-sendiri sesuai zaman dan kondisi hidup mereka saat itu. Meskipun demikian, semua umat memiliki akidah dan pokok agama yang sama, yaitu bertauhid kepada Allah Swt.. Seandainya Allah menghendaki, mudah saja bagi-Nya menjadikan seluruh manusia sejak Nabi Adam hingga kiamat tiba menjadi satu umat saja. Namun, Allah hendak menguji manusia. Karenanya, Dia memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dia pecah-pecahkan manusia untuk mengujinya terhadap syariat yang berbeda sesuai keadaan dan kejadian di waktu itu; agar Dia melihat siapa di antara kita yang taat dan bermaksiat. Demikian juga agar kita dapat berlomba-lomba dalam kebaikan dengan umat sebelum kita.

Al-Qur'an sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan penjaga ajaran kitab-kitab terdahulu. Dengan menekankan terhadap dasar-dasar ajaran para nabi terdahulu, Al-Qur'an juga sepenuhnya memelihara keaslian ajaran kitab terdahulu dan menyempurnakannya. Ayat ini juga mendorong pengembangan berbagai macam kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Semua orang dengan potensi dan kadar kemampuan masing-masing harus berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.

 

3. Hadis Terkait Berkompetisi dalam Kebaikan

melakukan kebaikan. Pentingnya menyegerakan amal kebaikan agar terhindar dari fitnah, Berlomba-lomba melakukan kebaikan sama maknanya dengan menyegerakan Rasulullah saw, bersabda sebagai berikut.

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَسَتَكُونُ فِتَنُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمَظْلُومِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا. (رواه مسلم)

Artinya:

"Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal saleh, karena akan terjadi suatu fitnah (bencana) yang menyerupai malam yang gelap gulita, di mana ada seseorang yang pada waktu pagi ia beriman tetapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia." (H.R. Muslim)

Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. memberitahukan kepada kita tentang masa fitnah yang saat itu seseorang pada pagi hari masih beriman, namun sore harinya telah kafir. Mereka dengan mudah meninggalkan keimanan hanya karena keuntungan dunia yang sedikit dan sesaat. Semoga kita terhindar dari masa fitnah tersebut. Mari kita bersegera melakukan amal saleh, yaitu amal yang ikhlas karena Allah Swt. dan sesuai tuntunan dalam Al-Qur'an dan sunah selagi kita masih sempat dan ada waktu.

Kebaikan yang dilakukan oleh mukmin akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Berlomba dalam kebaikan adalah ajakan untuk memulai dari diri sendiri dan selalu mengikuti jalan yang diridai Allah Swt. Rasulullah saw. menunjukkan contoh dengan selalu bersegera dalam berbuat kebaikan dan menganjurkan agar umat berlomba-lomba dalam ketaatan, seperti melaksanakan salat fardu tepat waktu, mencari ilmu, dan bersedekah.

 

4. Menjalankan Perilaku Berkompetisi dalam Kebaikan

Berikut beberapa contoh sikap baik dalam menjalankan perilaku berkompetisi dalam melakukan kebaikan.

a. Meyakini bahwa hidup adalah perjuangan untuk kompetisi dalam kebaikan.

b. Tidak takabur saat berhasil dan tidak putus asa saat mengalami kegagalan.

c. Bersikap jujur, sportif, dan berperilaku mencintai kebaikan dalam kompetisi kebaikan.

d. Tidak menunda-nunda waktu dalam melakukan amal kebaikan.

 

5. Manfaat Berkompetisi dalam Kebaikan

Kompetisi melakukan kebaikan dalam Islam disebut fastabiqul khairat. Kompetisi melakukan kebaikan tidak hanya dilakukan sekali, dua kali, atau hanya di saat kita ingin melakukannya saja. Berkompetisi dalam kebaikan harus dilakukan secara kontinu selama hidup di dunia. Umat Islam harus senantiasa istikamah dalam melakukan kebaikan dan bersikap tawakal atas apa yang diberikan oleh Allah Swt.. Kompetisi dalam kebaikan memotivasi individu untuk terus berusaha dan meningkatkan diri. Ketika seseorang berlomba untuk melakukan amal baik, mereka tidak hanya melakukan tugas dengan standar yang lebih tinggi tetapi juga berusaha keras untuk memperbaiki kualitas diri. Berdasarkan hal itu, banyak manfaat yang dapat dipetik dengan adanya kompetisi dalam kebaikan, di antaranya sebagai berikut.

a. Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt..

b. Menjadi manusia yang bermanfaat.

c. Mempercepat penyelesaian dalam pekerjaan.

d. Termotivasi untuk menjadi lebih baik.

e. Menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.

f. Mempererat hubungan antarsesama.

 

Mari Berlatih

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!

1. Bagaimana nlat melakukan kebaikan?

Jawab:

 

2. Bagaimana konsep berkompetisi dalam kebaikan menurut Islam?

Jawab:

 

3. Jelaskan perbedaan antara berlomba dalam kebaikan dan sekadar melakukan kebaikan?

Jawab:

 

4. Apa arti lafaz شَاء الله

Jawab:

 

5. Apa yang dapat dilakukan untuk memotivasi diri Anda berkompetisi dalam kebaikan?

Jawab:

 

Aktivitas Bersama

Untuk pembelajaran mendalam, lakukan kegiatan berikut!

Bagaimana ajaran Islam mengenai berlomba dalam kebaikan dapat diterapkan dalam konteks persaingan di dunia kerja atau akademik? Diskusikan dengan teman Anda!

 

B. Etos Kerja

1. Pengertian Etos Kerja

Etos berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti 'watak', 'tujuan', atau 'kebiasaan seseorang'. Adapun "kerja" berarti usaha yang dilakukan seseorang. Dalam Islam, etos kerja mencakup upaya sungguh-sungguh dalam segala aspek, seperti bekerja, belajar, dan beribadah kepada Allah Swt. Etos kerja berarti bekerja keras tidak hanya secara fisik tetapi, juga melalui pemikiran yang mendalam. Kerja keras merupakan bentuk ikhtiar dalam hidup, dan setelah mencapai tahap tersebut, sikap tawakal diperlukan untuk mendapatkan hasil yang baik. Setelah semua ikhtiar dilakukan, lalu bersikap tawakal untuk menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah Swt..

Bekerja adalah fitrah manusia dan identitas penting dalam Islam, bertujuan untuk meningkatkan martabat sebagai hamba Allah Swt.. Enggan bekerja, malas, atau tidak memanfaatkan potensi diri berarti melawan fitrah dan merendahkan derajat sebagai manusia di hadapan Allah. Seorang muslim seharusnya bekerja tidak hanya untuk gaji atau gengsi, tetapi dengan kesadaran, semangat, dan tanggung jawab, sebagai cerminan karakter yang baik.

Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang dapat memberi petunjuk agar seseorang dapat meningkatkan etos kerja, salah satunya manajemen waktu. Seorang muslim dituntut dapat mempergunakan waktu dengan efektif untuk mengerjakan berbagai aktivitas baik, terutama pekerjaan. Kita banyak menemukan ayat yang berisi sumpah Allah Swt. dengan menggunakan waktu, seperti wal-'aşri, wad-duḥā, wal-laili, wan-nahāri.

 

2. Ayat Al-Qur'an Terkait Etos Kerja

a. Lafaz dan Terjemahan Surah at-Taubah Ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتَرَدُّوْنَ إِلَى عَلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya:

mukmin akan melihat pekerjaanmu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu. Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan." (Q.S. at-Taubah [9]: 105)

Rasulullah juga bersabda:

Dari Umar ra., dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw, bersabda: Sesung-guhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orarig (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridaan) Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan." (H.R. al-Bukhari)

Selain memperhatikan pekerjaan atau melakukan amal saleh untuk kehidupan dunia, kita juga harus beramal untuk kehidupan akhirat. Bahkan, beramal untuk kehidupan akhirat lebih penting dan utama daripada bekerja untuk urusan dunia. Namun, dalam kehidupan dunia pun ada kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia demi kelangsungan hidupnya, sehingga harus beramal untuk dunia dan akhirat secara seimbang.

Kandungan Surah at-Taubah ayat 105 bahwa Allah Swt. mernerintahkan kepada umat manusia untuk bekerja keras dan beramal saleh. Apa pun pekerjaan atau amal yang dikerjakan, Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu. Di akhirat kelak Allah akan memberikan balasan terhadap amalan tersebut.

 

3. Hadis Terkait Etos Kerja

Kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri karakter atau kepribadian yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis dan menjelaskan muslim yang baik ketika melakukan dan menuntaskan pekerjaan sendiri.

اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْكَسْبِ عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ أَطْيَبُ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعِ مَبْرُورٍ. (رواه البزار)

Artinya:

Dari Rifa'ah bin Rafi' ra. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya: "Pekerjaan apakah yang paling baik?" Beliau bersabda: "Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih." (H.R. al-Bazzar)

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa orang yang bekerja demi menafkahi dirinya sendiri mendapatkan apresiasi dari Rasulullah saw.. Begitu pun sebaliknya. Rasulullah saw. membenci orang yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja.

 

4. Meneladani Perilaku Etos Kerja Rasulullah saw.

Perilaku etos kerja dicontohkan oleh teladan umat Islam, yaitu baginda Rasulullah saw.. Beliau telah memberikan contoh etos kerja kepada umat Islam. Upaya keras yang dilakukan Rasulullah saw. agar umat Islam punya etos kerja yang tinggi ternyata bukan saja ditunjukkan lewat beberapa hadis yang beliau sabdakan, akan tetapi juga ditunjukkan oleh Rasulullah saw, lewat tindakan. Rasulullah saw. menunjukkan perilaku beretos kerja tinggi, tak mudah menyerah, pekerja keras, dan enggan bermalas-malasan. Hal ini bisa dilihat dari sejarah perjalanan Rasulullah saw., tepatnya sebelum diutus menjadi rasul. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa di seputar masa mudanya, Rasulullah saw. sudah sering mengikuti pamannya berdagang ke Syam dan Syiria pada usia 12 tahun. Lebih dari 20 tahun Rasulullah saw. berkiprah di bidang usaha ini. Sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Irak, Yordania, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab.

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw. dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Pamannya bukan seorang yang kaya. la termasuk keluarga miskin dengan banyak anggota keluarga yang harus dihidupi. Keadaan dan kondisi keluarga seperti ini mendorong Rasulullah saw, untuk bekerja memenuhi nafkah dan membantu meringankan beban pamannya. Karena dibesarkan di lingkungan kaum Quraisy yang profesinya  berdagang, maka Rasulullah saw. juga memiliki bakat dagang. Satu hal yang harus disadari bahwa kesuksesan Rasulullah saw. dalam berbisnis tentu tidak lepas dari etos kerja yang begitu tinggi. Nabi Muhammad saw, sadar bahwa hidup di dunia pasti dihadapkan pada sebuah kenyataan, yaitu kebutuhan hidup yang tidak sedikit. Maka dari itu, hidup tidak bisa dibuat santai tanpa berpikir cara memenuhi kebutuhan hidup agar tidak menyusahkan orang lain. Kepribadian Nabi Muhammad saw. yang jujur, giat bekerja, dan tidak suka bermalas-malasan adalah teladan. Itu merupakan contoh baik yang sudah semestinya kita tiru.

Selain contoh dari Rasulullah saw., etos kerja tinggi juga dipraktikkan oleh para Mereka mendakwahkan Islam dengan sungguh-sungguh demi melanjutkan syiar Islam sahabat. Para sahabat memiliki etos kerja yang tinggi, contohnya Khulafarurrasyidin dari Rasulullah saw.. Contoh perintah etos kerja tinggi ditunjukkan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya. Kisah tersebuť diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri. Pada suatu hari Rasulullah saw. masuk ke masjid. Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki Ansar yang bernama Abu Umamah. Beliau kemudian menyapanya, "Hai Abu Umamah mengapa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu salat?" Abu Umamah menjawab "Kebingungan dan utang-utangku yang membuatku (begini), ya Rasul." Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah saw. memberi nasihat kepada Abu Umamah, "Jauhilah perasaan ragu dan putus asa, malas dan lemah kemampuan, pengecut dan kikir, gemar berutang dan hubungan kurang baik dengan sesama manusia." (H.R. Abu Dawud). Abu Umaman bersungguh-sungguh melaksanakan nasihat tersebut. Akhirnya, kehidupan Abu Umamah menjadi lebih baik dan bahagia.

Hadis di atas merupakan contoh etos kerja yang tinggi dilakukan oleh sahabat Rasulullah saw.. Adapun berikut ini perilaku-perilaku yang mencerminkan etos kerja tinggi.

a. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu agar meraih hasil yang maksimal.

b. Mengerjakan tugas tepat waktu..

C. Menjalankan tugas dengan tanggung jawab.

Bekerja merupakan kewajiban seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan nafkah orang yang ditanggung. Etos kerja yang dilakukan seseorang hendaknya sesuai dengan ajaran dari Allah Swt. dan rasul-Nya sehingga dapat menimbulkan keridaan dari Allah Swt. dan memperoleh hasil yang maksimal serta berkah. Pekerjaan berlandaskan etos kerja tinggi akan mendapat manfaat dan hikmah di antaranya sebagai berikut.

 

5. Manfaat dan Hikmah Perilaku Etos Kerja

a. Mengembangkan kemampuan diri, baik bakat maupun minat.

b. Membentuk diri yang bertanggung jawab dan disiplin.

c. Mengangkat derajat dan martabat.

d. Meningkatkan taraf hidup.

e. Mendapat pahala dari Allah Swt..

 

PENDIDIKAN ANTIKORUPSI

Kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari ketulusan dan etos kerja setiap individu yang bersungguh-sungguh menjalankan tugasnya.

 

MARI BERLATIH

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!

1. Jelaskan konsep etos kerja dalam Islam!

Jawab:

 

2. Apa peran niat dalam etos kerja seorang muslim?

Jawab:

 

3. Jelaskan hubungan antara etos kerja dan sikap tawakal dalam Islam!

Jawab:

 

4. Jelaskan dampak sifat malas bagi seseorang!

Jawab:

 

5. Tunjukkan ciri karakter yang harus dimiliki seorang muslim dalam etos kerja!

Jawab:

 

Lembar Kerja Peserta Didik

Kerjakan sesuai perintah!

Menghafal Surah al-Ma'idah ayat 48 dan Surah at-Taubah ayat 105

 

Rangkuman

1. Kompetisi dalam kebaikan adalah melakukan persaingan atau berlomba untuk melakukan kebaikan atau amal saleh.

2. Etos kerja adalah semangat dan motivasi kerja untuk mencapai suatu tujuan.

3. Kandungan Surah al-Ma'idah ayat 84 adalah anjuran untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).

4. Kandungan Surah at-Taubah ayat 105 adalah perintah untuk beramal dengan baik dan semangat bekerja. Agar orang lain dapat meniru kita dan Allah Swt. memberi ganjaran berlebih.

 

5. Hikmah berkompetisi dalam kebaikan sebagai berikut.

a. Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt..

b. Menjadi manusia yang bermanfaat.

C. Mempercepat penyelesaian dalam pekerjaan.

d. Termotivasi untuk menjadi lebih baik.

e. Menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.

f. Mempererat hubungan antarsesama.

 

6. Hikmah perilaku etos kerja sebagai berikut.

a. Mengembangkan kemampuan diri, baik bakat, minat, maupun hal lain.

b. Membentuk diri yang bertanggung jawab dan disiplin.

c. Mengangkat derajat dan martabat.

d. Meningkatkan taraf hidup.

e. Mendapat pahala dari Allah Swt..

 

7. Menerapkan perilaku berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja yang tinggi, bermanfaat bagi diri sendiri di dunia dan akhirat kelak.

 

Glosarium

Kompetisi: berlomba-lomba

Potensi: kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan

Sportif: bersifat kesatria, jujur, dan sebagainya

Posting Komentar

0 Komentar