APERSEPSI
Allah Swt. menciptakan manusia yang berbeda. Meski berbeda, manusia
tetap memiliki kesempatan yang sama dalam melakukan kebaikan. Allah Swt. hendak
mencari dan menguji siapa saja yang paling kuat keimanan kepada-Nya sehingga
manusia harus saling berkompetisi dalam kebaikan. Untuk memenangkan perlombaan,
tentu dibutuhkan sebuah etos kerja tinggi dan kesungguhan.
Sikap berlomba dalam kebaikan dan etos kerja merupakan dua pilar
yang paling dibutuhkan untuk membentuk karakter dan arah kemajuan
sebagai-individu dan bangsa. Materi berikut akan dijelaskan tentang ayat
berlomba dalam kebaikan dan etos kerja, yaitu Surah al-Ma'idah ayat 48 dan
Surah at-Taubah ayat 105.
RINGKASAN MATERI
Berlomba dalam kebaikan dan etos kerja termasuk akhlak mulia yang
diajarkan dalam Islam. berlomba maba dalam kebaikan dan kerja sangat dibutuhkan
dalam menjalani kehidupan. Allah Swt. memerintahkan untuk berlombą dalam
kebaikan dan memiliki etos kerja, di antaranya dijelaskan dalam Surah
al-Ma'idah ayat 48 dan Surah at-Taubah ayat 105 sebagai berikut.
A. Kompetisi dalam Kebaikan
1. Pengertian Kompetisi dalam Kebaikan
Lomba juga disebut kompetisi. Kompetisi memiliki arti persaingan.
Adapun kebaikan adalah segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan norma atau
hukum yang berlaku di dalam masyarakat. Kebaikan dalam Islam diartikan sebagai
segala bentuk amal saleh yang diajarkan dalam Islam dan apabila dikerjakan
dapat mendatangkan keridaan dari Allah Swt.. Jadi, kompetisi dalam kebaikan
adalah berlomba-lomba menjadi yang terbaik dalam melakukan kebaikan atau amal
saleh. Berlomba dalam kebaikan berarti berkompetisi untuk memberikan yang
terbaik dalam setiap tindakan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk
kesejahteraan bersama. Ini adalah tentang menciptakan dampak positif dan
menjadi teladan dalam moralitas dan integritas.
Islam mengajarkan umatnya untuk beriomba dalam kebaikan sebagai
titik fokus kehidupan mereka, yaitu melakukan amal baik yang menjadi bekal di
akhirat. Setelah kematian, hanya amal baik yang dapat menyelamatkan seseorang.
Orang yang memiliki semangat kompetisi dalam kebaikan akan berusaha sekeras
mungkin untuk mencapai tujuannya. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam
berlomba-lomba dalam kebaikan, cara yang digunakan harus sesuai dengan
prinsip-prinsip yang benar. Al-Qur'an dan hadis memberikan petunjuk yang jelas
dalam melaksanakan amal kebaikan.
2. Ayat Al-Qur'an Terkait Kompetisi dalam Kebaikan
a. Lafaz dan Terjemahan Surah al-Ma'idah Ayat 48
لِكُلِّ
جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ
أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا أَتْكُمْ فَاسْتَبِقُوا
الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
فِيهِ تَخْتَلِفُوْنَ
Artinya:
"...Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan
jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu
umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia
anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya
kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang
selama ini kamu perselisihkan." (Q.S. al-Ma'idah [5]: 48)
d. Kandungan Surah al-Ma'idah Ayat 48
Perintah berlomba dalam kebaikan terdapat dalam Surah al-Ma'idah
ayat 48. Allah Swt. menghendaki manusia menggunakan akal pikirannya untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal saleh. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa
maksud berlomba-lomba dalam kebaikan adalah menaati Allah Swt., mengikuti
syariat-Nya, dan membenarkan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab terakhir yang
diturunkan-Nya. Allah Swt. mengutus para nabi dan menurunkan syariat kepadanya
untuk memberi petunjuk kepada manusia agar hidup pada jalan yang benar dan
lurus. Ayat ini juga menjelaskan bahwa Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sangat
tinggi.
Umat-umat terdahulu memiliki syariat dan hukum sendiri-sendiri
sesuai zaman dan kondisi hidup mereka saat itu. Meskipun demikian, semua umat
memiliki akidah dan pokok agama yang sama, yaitu bertauhid kepada Allah Swt..
Seandainya Allah menghendaki, mudah saja bagi-Nya menjadikan seluruh manusia
sejak Nabi Adam hingga kiamat tiba menjadi satu umat saja. Namun, Allah hendak
menguji manusia. Karenanya, Dia memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan. Dia pecah-pecahkan manusia untuk mengujinya terhadap syariat yang
berbeda sesuai keadaan dan kejadian di waktu itu; agar Dia melihat siapa di
antara kita yang taat dan bermaksiat. Demikian juga agar kita dapat
berlomba-lomba dalam kebaikan dengan umat sebelum kita.
Al-Qur'an sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya dan penjaga
ajaran kitab-kitab terdahulu. Dengan menekankan terhadap dasar-dasar ajaran
para nabi terdahulu, Al-Qur'an juga sepenuhnya memelihara keaslian ajaran kitab
terdahulu dan menyempurnakannya. Ayat ini juga mendorong pengembangan berbagai
macam kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Semua orang dengan potensi dan
kadar kemampuan masing-masing harus berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan.
3. Hadis Terkait Berkompetisi dalam Kebaikan
melakukan kebaikan. Pentingnya menyegerakan amal kebaikan agar
terhindar dari fitnah, Berlomba-lomba melakukan kebaikan sama maknanya dengan
menyegerakan Rasulullah saw, bersabda sebagai berikut.
بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فَسَتَكُونُ فِتَنُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمَظْلُومِ
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ
كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا. (رواه مسلم)
Artinya:
"Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal saleh,
karena akan terjadi suatu fitnah (bencana) yang menyerupai malam yang gelap
gulita, di mana ada seseorang yang pada waktu pagi ia beriman tetapi pada waktu
sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu pagi ia kafir, ia
rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia." (H.R. Muslim)
Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw. memberitahukan kepada kita
tentang masa fitnah yang saat itu seseorang pada pagi hari masih beriman, namun
sore harinya telah kafir. Mereka dengan mudah meninggalkan keimanan hanya
karena keuntungan dunia yang sedikit dan sesaat. Semoga kita terhindar dari
masa fitnah tersebut. Mari kita bersegera melakukan amal saleh, yaitu amal yang
ikhlas karena Allah Swt. dan sesuai tuntunan dalam Al-Qur'an dan sunah selagi
kita masih sempat dan ada waktu.
Kebaikan yang dilakukan oleh mukmin akan mendapatkan balasan dari
Allah Swt. Berlomba dalam kebaikan adalah ajakan untuk memulai dari diri
sendiri dan selalu mengikuti jalan yang diridai Allah Swt. Rasulullah saw.
menunjukkan contoh dengan selalu bersegera dalam berbuat kebaikan dan
menganjurkan agar umat berlomba-lomba dalam ketaatan, seperti melaksanakan
salat fardu tepat waktu, mencari ilmu, dan bersedekah.
4. Menjalankan Perilaku Berkompetisi dalam Kebaikan
Berikut beberapa contoh sikap baik dalam menjalankan perilaku
berkompetisi dalam melakukan kebaikan.
a. Meyakini bahwa hidup adalah perjuangan untuk kompetisi dalam
kebaikan.
b. Tidak takabur saat berhasil dan tidak putus asa saat mengalami
kegagalan.
c. Bersikap jujur, sportif, dan berperilaku mencintai kebaikan
dalam kompetisi kebaikan.
d. Tidak menunda-nunda waktu dalam melakukan amal kebaikan.
5. Manfaat Berkompetisi dalam Kebaikan
Kompetisi melakukan kebaikan dalam Islam disebut fastabiqul
khairat. Kompetisi melakukan kebaikan tidak hanya dilakukan sekali, dua kali,
atau hanya di saat kita ingin melakukannya saja. Berkompetisi dalam kebaikan
harus dilakukan secara kontinu selama hidup di dunia. Umat Islam harus
senantiasa istikamah dalam melakukan kebaikan dan bersikap tawakal atas apa
yang diberikan oleh Allah Swt.. Kompetisi dalam kebaikan memotivasi individu
untuk terus berusaha dan meningkatkan diri. Ketika seseorang berlomba untuk
melakukan amal baik, mereka tidak hanya melakukan tugas dengan standar yang
lebih tinggi tetapi juga berusaha keras untuk memperbaiki kualitas diri.
Berdasarkan hal itu, banyak manfaat yang dapat dipetik dengan adanya kompetisi
dalam kebaikan, di antaranya sebagai berikut.
a. Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt..
b. Menjadi manusia yang bermanfaat.
c. Mempercepat penyelesaian dalam pekerjaan.
d. Termotivasi untuk menjadi lebih baik.
e. Menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.
f. Mempererat hubungan antarsesama.
Mari Berlatih
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Bagaimana nlat melakukan kebaikan?
Jawab:
2. Bagaimana konsep berkompetisi dalam kebaikan menurut Islam?
Jawab:
3. Jelaskan perbedaan antara berlomba dalam kebaikan dan sekadar
melakukan kebaikan?
Jawab:
4. Apa arti lafaz شَاء الله
Jawab:
5. Apa yang dapat dilakukan untuk memotivasi diri Anda berkompetisi
dalam kebaikan?
Jawab:
Aktivitas Bersama
Untuk pembelajaran mendalam, lakukan kegiatan berikut!
Bagaimana ajaran Islam mengenai berlomba dalam kebaikan dapat
diterapkan dalam konteks persaingan di dunia kerja atau akademik? Diskusikan
dengan teman Anda!
B. Etos Kerja
1. Pengertian Etos Kerja
Etos berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti 'watak',
'tujuan', atau 'kebiasaan seseorang'. Adapun "kerja" berarti usaha
yang dilakukan seseorang. Dalam Islam, etos kerja mencakup upaya
sungguh-sungguh dalam segala aspek, seperti bekerja, belajar, dan beribadah
kepada Allah Swt. Etos kerja berarti bekerja keras tidak hanya secara fisik tetapi,
juga melalui pemikiran yang mendalam. Kerja keras merupakan bentuk ikhtiar
dalam hidup, dan setelah mencapai tahap tersebut, sikap tawakal diperlukan
untuk mendapatkan hasil yang baik. Setelah semua ikhtiar dilakukan, lalu
bersikap tawakal untuk menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah Swt..
Bekerja adalah fitrah manusia dan identitas penting dalam Islam,
bertujuan untuk meningkatkan martabat sebagai hamba Allah Swt.. Enggan bekerja,
malas, atau tidak memanfaatkan potensi diri berarti melawan fitrah dan
merendahkan derajat sebagai manusia di hadapan Allah. Seorang muslim seharusnya
bekerja tidak hanya untuk gaji atau gengsi, tetapi dengan kesadaran, semangat,
dan tanggung jawab, sebagai cerminan karakter yang baik.
Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang dapat memberi petunjuk agar
seseorang dapat meningkatkan etos kerja, salah satunya manajemen waktu. Seorang
muslim dituntut dapat mempergunakan waktu dengan efektif untuk mengerjakan
berbagai aktivitas baik, terutama pekerjaan. Kita banyak menemukan ayat yang
berisi sumpah Allah Swt. dengan menggunakan waktu, seperti wal-'aşri, wad-duḥā,
wal-laili, wan-nahāri.
2. Ayat Al-Qur'an Terkait Etos Kerja
a. Lafaz dan Terjemahan Surah at-Taubah Ayat 105
وَقُلِ
اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
وَسَتَرَدُّوْنَ إِلَى عَلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
mukmin akan melihat pekerjaanmu. Dan kamu akan dikembalikan kepada
(Zat) yang "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Bekerjalah! Maka, Allah,
rasul-Nya, dan orang-orang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu. Dia akan
memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan." (Q.S.
at-Taubah [9]: 105)
Rasulullah juga bersabda:
Dari Umar ra., dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw,
bersabda: Sesung-guhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya
setiap orarig (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang
hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridaan) Allah dan rasul-Nya, maka
hijrahnya kepada (keridaan) Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya
karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin
dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan."
(H.R. al-Bukhari)
Selain memperhatikan pekerjaan atau melakukan amal saleh untuk
kehidupan dunia, kita juga harus beramal untuk kehidupan akhirat. Bahkan,
beramal untuk kehidupan akhirat lebih penting dan utama daripada bekerja untuk
urusan dunia. Namun, dalam kehidupan dunia pun ada kebutuhan yang harus
dipenuhi oleh manusia demi kelangsungan hidupnya, sehingga harus beramal untuk
dunia dan akhirat secara seimbang.
Kandungan Surah at-Taubah ayat 105 bahwa Allah Swt. mernerintahkan
kepada umat manusia untuk bekerja keras dan beramal saleh. Apa pun pekerjaan
atau amal yang dikerjakan, Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman
akan melihat pekerjaan itu. Di akhirat kelak Allah akan memberikan balasan
terhadap amalan tersebut.
3. Hadis Terkait Etos Kerja
Kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat dan
tanggung jawab merupakan salah satu ciri karakter atau kepribadian yang harus
dimiliki oleh seorang muslim. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis dan
menjelaskan muslim yang baik ketika melakukan dan menuntaskan pekerjaan
sendiri.
اللهُ
عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الْكَسْبِ عَنْ
رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ أَطْيَبُ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ
بَيْعِ مَبْرُورٍ. (رواه البزار)
Artinya:
Dari Rifa'ah bin Rafi' ra. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya:
"Pekerjaan apakah yang paling baik?" Beliau bersabda: "Pekerjaan
seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang bersih." (H.R.
al-Bazzar)
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa orang yang bekerja demi
menafkahi dirinya sendiri mendapatkan apresiasi dari Rasulullah saw.. Begitu
pun sebaliknya. Rasulullah saw. membenci orang yang bermalas-malasan dan tidak
mau bekerja.
4. Meneladani Perilaku Etos Kerja Rasulullah saw.
Perilaku etos kerja dicontohkan oleh teladan umat Islam, yaitu
baginda Rasulullah saw.. Beliau telah memberikan contoh etos kerja kepada umat
Islam. Upaya keras yang dilakukan Rasulullah saw. agar umat Islam punya etos
kerja yang tinggi ternyata bukan saja ditunjukkan lewat beberapa hadis yang
beliau sabdakan, akan tetapi juga ditunjukkan oleh Rasulullah saw, lewat
tindakan. Rasulullah saw. menunjukkan perilaku beretos kerja tinggi, tak mudah
menyerah, pekerja keras, dan enggan bermalas-malasan. Hal ini bisa dilihat dari
sejarah perjalanan Rasulullah saw., tepatnya sebelum diutus menjadi rasul.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa di seputar masa mudanya, Rasulullah saw.
sudah sering mengikuti pamannya berdagang ke Syam dan Syiria pada usia 12
tahun. Lebih dari 20 tahun Rasulullah saw. berkiprah di bidang usaha ini.
Sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Irak, Yordania, dan kota-kota
perdagangan di Jazirah Arab.
Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw. dibesarkan oleh
pamannya, Abu Thalib. Pamannya bukan seorang yang kaya. la termasuk keluarga
miskin dengan banyak anggota keluarga yang harus dihidupi. Keadaan dan kondisi
keluarga seperti ini mendorong Rasulullah saw, untuk bekerja memenuhi nafkah
dan membantu meringankan beban pamannya. Karena dibesarkan di lingkungan kaum Quraisy
yang profesinya berdagang, maka
Rasulullah saw. juga memiliki bakat dagang. Satu hal yang harus disadari bahwa
kesuksesan Rasulullah saw. dalam berbisnis tentu tidak lepas dari etos kerja
yang begitu tinggi. Nabi Muhammad saw, sadar bahwa hidup di dunia pasti
dihadapkan pada sebuah kenyataan, yaitu kebutuhan hidup yang tidak sedikit.
Maka dari itu, hidup tidak bisa dibuat santai tanpa berpikir cara memenuhi
kebutuhan hidup agar tidak menyusahkan orang lain. Kepribadian Nabi Muhammad
saw. yang jujur, giat bekerja, dan tidak suka bermalas-malasan adalah teladan.
Itu merupakan contoh baik yang sudah semestinya kita tiru.
Selain contoh dari Rasulullah saw., etos kerja tinggi juga
dipraktikkan oleh para Mereka mendakwahkan Islam dengan sungguh-sungguh demi
melanjutkan syiar Islam sahabat. Para sahabat memiliki etos kerja yang tinggi,
contohnya Khulafarurrasyidin dari Rasulullah saw.. Contoh perintah etos kerja
tinggi ditunjukkan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya. Kisah tersebuť
diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri. Pada suatu hari Rasulullah saw. masuk ke
masjid. Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki Ansar yang bernama Abu
Umamah. Beliau kemudian menyapanya, "Hai Abu Umamah mengapa aku melihatmu
duduk di masjid di luar waktu salat?" Abu Umamah menjawab
"Kebingungan dan utang-utangku yang membuatku (begini), ya Rasul."
Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah saw. memberi nasihat kepada Abu Umamah,
"Jauhilah perasaan ragu dan putus asa, malas dan lemah kemampuan, pengecut
dan kikir, gemar berutang dan hubungan kurang baik dengan sesama manusia."
(H.R. Abu Dawud). Abu Umaman bersungguh-sungguh melaksanakan nasihat tersebut.
Akhirnya, kehidupan Abu Umamah menjadi lebih baik dan bahagia.
Hadis di atas merupakan contoh etos kerja yang tinggi dilakukan oleh
sahabat Rasulullah saw.. Adapun berikut ini perilaku-perilaku yang mencerminkan
etos kerja tinggi.
a. Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu agar meraih hasil
yang maksimal.
b. Mengerjakan tugas tepat waktu..
C. Menjalankan tugas dengan tanggung jawab.
Bekerja merupakan kewajiban seseorang untuk memenuhi kebutuhan
hidup dan nafkah orang yang ditanggung. Etos kerja yang dilakukan seseorang
hendaknya sesuai dengan ajaran dari Allah Swt. dan rasul-Nya sehingga dapat
menimbulkan keridaan dari Allah Swt. dan memperoleh hasil yang maksimal serta
berkah. Pekerjaan berlandaskan etos kerja tinggi akan mendapat manfaat dan
hikmah di antaranya sebagai berikut.
5. Manfaat dan Hikmah Perilaku Etos Kerja
a. Mengembangkan kemampuan diri, baik bakat maupun minat.
b. Membentuk diri yang bertanggung jawab dan disiplin.
c. Mengangkat derajat dan martabat.
d. Meningkatkan taraf hidup.
e. Mendapat pahala dari Allah Swt..
PENDIDIKAN ANTIKORUPSI
Kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari
ketulusan dan etos kerja setiap individu yang bersungguh-sungguh menjalankan
tugasnya.
MARI BERLATIH
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Jelaskan konsep etos kerja dalam Islam!
Jawab:
2. Apa peran niat dalam etos kerja seorang muslim?
Jawab:
3. Jelaskan hubungan antara etos kerja dan sikap tawakal dalam
Islam!
Jawab:
4. Jelaskan dampak sifat malas bagi seseorang!
Jawab:
5. Tunjukkan ciri karakter yang harus dimiliki seorang muslim dalam
etos kerja!
Jawab:
Lembar Kerja Peserta Didik
Kerjakan sesuai perintah!
Menghafal Surah al-Ma'idah ayat 48 dan Surah at-Taubah ayat 105
Rangkuman
1. Kompetisi dalam kebaikan adalah melakukan persaingan atau
berlomba untuk melakukan kebaikan atau amal saleh.
2. Etos kerja adalah semangat dan motivasi kerja untuk mencapai
suatu tujuan.
3. Kandungan Surah al-Ma'idah ayat 84 adalah anjuran untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
4. Kandungan Surah at-Taubah ayat 105 adalah perintah untuk beramal
dengan baik dan semangat bekerja. Agar orang lain dapat meniru kita dan Allah
Swt. memberi ganjaran berlebih.
5. Hikmah berkompetisi dalam kebaikan sebagai berikut.
a. Memperoleh rida dan pahala dari Allah Swt..
b. Menjadi manusia yang bermanfaat.
C. Mempercepat penyelesaian dalam pekerjaan.
d. Termotivasi untuk menjadi lebih baik.
e. Menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.
f. Mempererat hubungan antarsesama.
6. Hikmah perilaku etos kerja sebagai berikut.
a. Mengembangkan kemampuan diri, baik bakat, minat, maupun hal
lain.
b. Membentuk diri yang bertanggung jawab dan disiplin.
c. Mengangkat derajat dan martabat.
d. Meningkatkan taraf hidup.
e. Mendapat pahala dari Allah Swt..
7. Menerapkan perilaku berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja
yang tinggi, bermanfaat bagi diri sendiri di dunia dan akhirat kelak.
Glosarium
Kompetisi: berlomba-lomba
Potensi: kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan
Sportif: bersifat kesatria, jujur, dan sebagainya

0 Komentar